Prurigo ( Prurigo von Hebra ), secara umum adalah penyakit kulit yang ditandai dengan gangguan kulit berbentuk papula dan nodul (ukurannya bervarisai), berwarna kecoklatan hingga kehitaman (hiperpigmentasi), kronis (berlangsung lebih 6 minggu) dan bersifat kumat-kumatan (residif).
Penyakit ini tidak berbahaya. Meski begitu, penderita Prurigo von Hebra merasa sangat risih, gak nyaman, bahkan menjadi gak PD. Ini dapat dimaklumi karena pada kulit penderita Prurigo von Hebra timbul bentol-bentol berwarna kehitaman dan menebal, terutama di daerah anggota badan (ekstrimitas).
PENYEBAB
Hingga kini, penyebab Prurigo belum diketahui. Diduga berhubungan dengan faktor emosional. Hal ini dilandasi fakta bahwa rasa gatal muncul terutama ketika penderita Prurigo mengalami stress atau ketegangan emosional.
Bagimana hingga menjadi papula kecoklatan dan menghitam ?
Menurut Prof. Daniel J Hogan, MD, penebalan dan hiperpigmentasi pada papula Prurigo dipicu oleh trauma mekanis: penekanan, sentuhan, gesekan, garukan (sengaja ataupun tidak sengaja) karena rasa gatal ataupun rasa tak nyaman pada papula. Selebihnya, proses kelainan yang terjadi pada Prurigo belum diketahui.
Angka Kejadian
Prurigo von Hebra dapat mengenai semua ras dan semua umur. Frekuensi terbanyak dijumpai pada usia dewasa dan usia lanjut. Semula diyakini bahwa Prurigo von Hebra lebih sering dialami wanita dibanding pria, namun tak ada bukti akurat yang mendukung anggapan tersebut.
GEJALA / TANDA-TANDA
Tanda-tanda umum yang kerap dijumpai pada Prurigo, antara lain:
- Dijumpai lesi berbentuk papula dan nodul, berjumlah tunggal (Prurigo Simplex) maupun multiple (banyak).
- Penebalan dan hiperpigmentasi sehingga Prurigo berwarna kecoklatan hingga kehitaman.
- Gatal pada saat-saat tertentu, terutama ketika penderita mengalami ketegangan psikis.
- Lokasi tersering timbulnya Prurigo adalah anggota badan (ekstrimitas), terutama di permukaan bagian depan paha dan tungkai bawah hingga kaki.
- Ukuran lesi bervariasi, menebal, keras, berwarna merah kecoklatan hinggga kehitaman. Adakalanya mengalami pengelupasan di permukaan lesi.
PENGOBATAN
Mengingat bahwa penyebab pasti timbulnya Prurigo belum diketahui, maka pengobatan lebih ditujukan untuk meredakan keluhan (simptomatis) dan meminimalisir bekasnya.
Obat-bat yang lazim digunakan pada Prurigo, diantaranya:
- Antihistamin, untuk meredakan gatal, misalnya: Loratadine 10 mg atau Cetirizine 10 mg, diminum 1×1. Obat ini relatif tidak mengantuk dibanding antihistamin jenis lain.
- Obat topikal ( krim, salep, gel ): steroid anti-inflamasi.
- Injeksi dengan steroid intralesi. Pada umumnya menggunakan Triamcinolone asetonide. Dosis rata-rata: 0,5 – 1 cc hingga maksimal 5 cc setiap sekali pengobatan.
CATATAN:
Perlu dipahami bahwa Prurigo bersifat residif ( mudah kambuh ). Untuk itu diperlukan kesabaran dan ketelatenan bagi penderita Prurigo dalam mengobati penyakitnya jika sewaktu-waktu penyakitnya mengalami kekambuhan.
Persoalan lain yang paling tidak disukai penderita Prurigo adalah masalah kosmetik. Hiperpigmentasi ataupun bekas hitam kerap menjadi momok yang seolah tak kunjung hilang bagi penderita Prurigo.
Pada usia anak-anak, bekas Prurigo sebaiknya tidak perlu diobati dengan obat-obat anti hiperpigmentasi karena pulit anak masih dalam masa pertumbuhan. Biasanya, kulit anak akan pulih sedikit demi sedikit seiring dengan bertambahnya usia dan tubuh kembang anak.
Adapun pada dewasa, untuk meminimalisir bekas hitam (hiperpigmentasi) sebaiknya berobat ke dokter spesialis kulit agar dapat dipilihkan obat yang sesuai dengan kondisi masing-masing kulit penderita. Sekali lagi, diperlukan kesabaran dan ketelatenan karena pengobatan untuk meminimalisir bekas hitam memerlukan waktu lama, berminggu-minggu hingga berbulan-bulan.
Sumber : http://cakmoki86.wordpress.com

