Prosedur Pemberian Obat Melalui Intracutan (Suntik IC)
Oleh : Bidan Rina Widyawati
Menyuntikan obat adalah prosedur invasive yang mencakup memasukan obat melalui jarum steril yang dimasukkan kedalam jaringan tubuh. Teknik aseptic harus dipertahankan, karena pasien berisiko terhadap infeksi mana kala jarum suntik menusuk kulit.
Karakteristik jaringan mempengaruhi kecepatan penyerapan obat dan efek kerja obat. Oleh karenanya sebelum menyuntikan obat, tenaga kesehatan harus mengetahui volume obat yang akan diberikan, karakteristik obat dan letak struktur anatomi di bawah tempat yang akan disuntik.
Suntik Intracutan (IC) adalah suatu cara dalam memberikan obat melalui suntikan kedalam jaringan kulit (dibawah dermis atau epidermis) yang dilakukan pada lengan bawah bagian dalam atau ditempat lain yang dianggap peerlu.
Tujuan suntik Intracutan antara lain :
- Melaksanakan uji coba obat tertentu (misalnya skin test, penicillin, dan lain-lain)
- Memberikan obat tertentu yang pemberiannya hanya dapat dilakukan dengan cara suntikan intracutan
- Membantu menegakkan diagnosa terhadap penyakit tertentu (tuberculin test).
Jarum yang digunakan untuk menyuntik biasanya jarum yang berukuran kecil, nomer 18 atau 20, jumlah larutan yang digunakanpun tidak lebih dari beberapa mililiter (ml). Saat melakukan penyuntikan, jarum ditusukan dekat sekali dipermukaan kulit dengan posisi lubang jarum menghadap ke atas dan membuat sudut antara 150 sampai 200 dengan permukaan kulit.
Obat yang diinjeksikan membentuk sebuah gunungan (benjolan) pada kulit. Setelah obat diinjeksikan, cabut segera jarum dan area suntik tidak dimassase setelah penyuntikan. Keunggulan penyuntikan intracutan (IC) antara lain reaksi tubuh terhadap obat yang diinjeksikan mudah dilihat dengan cepat dan tingkat reaksinya juga dapat diketahui.
Terdapat beberapa hal penting yang harus diperhatikan dalam memberikan obat secara intracutan, yaitu:
- Sebelum dan sesudah menyuntik harus melakukan cuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir.
- Gunakan sarung tangan sebelum menyuntikan obat untuk menghindari infeksi silang antara tenaga kesehatan dan pasien.
- Bersihkan permukaan kulit yang akan dilakukan penyuntikan dengan menggunakan kapas DTT.
- Jarum dari spuit harus tetap steril sebelum penyuntikan.
- Pastikan tidak ada udara dalam spuit saat menghisap obat.
- Pastikan jarum tidak masuk kedalam pembuluh darah dengan melakukan aspirasi sebelum memasukkan obat.
- Setiap langkah dilakukan secara sistematis dan hati-hati.
- Gunakan satu tangan (one hand) saat membuka dan menutup tutup jarum spuit untuk menghindari petugas kesehatan tertusuk jarum spuit.
- Buang selalu spuit kedalam tempat sampah tajam setelah sebelumnya dispull sebanyak 3 kali dengan larutan Clorin 0,5 %.
Adapun alat-alat, bahan dan perlengkapan yang harus disiapkan adalah :
- Baki beralas
- Cupet beralas kasa
- Kom tertutup
- Sarung tangan bersih 1 pasang
- Spuit 1 ml
- Perlak dan alas
- Bengkok
- Tempat sampah tajam
- Tempat sampah kering
- Tempat sampah basah
- Waskom larutan Clorin 0,5 %
- Phantom ekstremitas atas
- Obat yang dibutuhkan
- Aquabidest
- Kasa steril
- Kapas DTT
- Larutan Clorin 0,5 %.
Setelah alat, bahan dan perlengkapan sudah tersedia selanjutnya lakukan prosedur tindakan.
Prosedur dalam melakukan penyuntikkan intracutan adalah :
- Lakukan Informed consent pada pasien. Jelaskan kepada pasien tentang tujuan penyuntikan intracutan, prosedur yang akan dilakukan dan gunakan bahasa yang dipahami pasien.
- Siapkan bahan dan peralatan yang akan digunakan. Letakkan alat secara ergonomis (mudah dijangkau).
- Pasang perlak dan alas dibawah lengan pasien dan dekatkan bengkok. Sebelum memasang perlak, gulung lengan baju pasien sampai ke atas. Bengkok diletakkan disamping perlak yang sudah terpasang.
- Cuci tangan 7 langkah. Lepaskan seluruh perhiasan, cuci tangan dibawah air mengalir menggunakan sabun dan keringkan tangan dengan handuk.
- Pakai sarung tangan (handscoon). Sarung tangan yang dipakai tidak harus steril, cukup sarung tangan yang bersih.
- Isap obat sebanyak 0,1 ml dengan spuit dan larutkan dengan Aquabidest bila perlu. Lakukan disinfeksi tutup fial terlebih dahulu dengan kapas DTT. Keluarkan udara yang ada di spuit. Tutup jarum spuit dengan satu tangan tanpa menyentuh jarum spuit. Letakkan spuit yang sudah berisi obat kedalam cupet. Bawa cupet ke dekat pasien.
- Bersihkan permukaaan kulit dengan kapas DTT. Sebelum dibersihkan, tentukan dahulu lokasi suntikan, yaitu lengan bawah bagian dalam.
- Suntikan jarum secara intracutan (IC). Kulit ditegangkan dengan tangan kiri. Lubang jarum menghadap ke atas. Posisi jarum 150–200 dari permukaan kulit. Lakukan aspirasi untuk memastikan jarum tidak masuk kedalam pembuluh darah.
- Suntikan obat sampai permukaan kulit menggelembung. Masukkan obat secara perlahan-lahan. Setelah obat masuk, jarum dicabut dengan cepat. Jangan memassase tempat penyuntikan.
- Beri tanda pada tempat penyuntikan. Lingkari tempat penyuntikan dengan balpoint bahwa obat telah diberikan (tanggal, waktu, jenis obat).
- Buang spuit dan sampah kedalam tempat sampah. Spull spuit dengan larutan Clorin 0,5% sebanyak 3 kali sebelum membuang kedalam tempat sampah tajam. Sampah basah dibuang kedalam tempat sampah basah. Sampah kering dibuang kedalam tempat sampah kering.
- Rendam cupet, bengkok dan sarung tangan dalam larutan Clorin 0,5 %. Rendam cupet dan bengkok sampai tenggelam. Sarung tangan direndam secara terbalik. Semua peralatan bekas pakai direndam selama 10 menit.
- Rapikan kembali pasien dan peralatan. Rapikan lengan baju pasian seperti semula. Simpan peralatan ketempat semula.
- Cuci tangan kembali. Cuci tangan dibawah air mengalir menggunakan sabun dan keringkan tangan dengan handuk.
- Observasi hasil penyuntikkan selama 15 menit.
- Dokumentasikan semua tindakan termasuk hasil reaksi obat. Apakah terdapat alergi atau tidak. Jika terdapat alergi biasanya ditandai kemerahan pada kulit dan pasien merasa gatal pada daerah penyuntikkan.
Peralatan suntik intracutan ini bisa didapatkan di TokoAlkes Jl. Pasir kaliki no. 239B (depan RSHS), atau bisa menghubungi 022-70179366.
Sumber : Buku Keterampilan Dasar Praktik Klinik

