Bayi Kuning (Jaundice)
Bayi kuning merupakan kejadian yang sering dijumpai pada minggu pertama kehidupan. Biasanya kuning tampak pada:
- Kulit
- Selaput mukosa
- Selaput mata
- Wajah
- Dada
- Perut
- Alat gerak
Kuning terjadi karena penumpukan bilirubin. Bilirubin sendiri adalah hasil pemecahan sel darah merah.
Bayi kuning dibagi menjadi dua:
1. Kuning Fisiologis
Kuning fisiologis sangat umum, terjadi pada 60% bayi baru lahir.
Ciri-ciri:
- Kuning timbul setelah 24 jam pertama kelahiran
- Berlangsung antara 7-14 hari
- Kadar bilirubin total dalam darah pada minggu pertama kehidupan < 12mg/dl pada bayi cukup bulan atau < 15mg/dl pada bayi premature
Penyebab:
- Bayi belum sempurna mengeluarkan bilirubin sendiri, karena sebelumnya pada masa janin, bilirubin dikeluarkan melalui placenta ibu
- Jumlah sel darah merah lebih banyak pada bayi baru lahir
- Lama hidup sel darah merah pada bayi baru lahir lebih singkat
- Jumlah albumin (pengikat bilirubin) kurang pada bayi prematur atau bayi yang mengalami gangguan pertumbuhan dalam kandungan
- Pematangan bilirubin oleh hati belum sempurna pada bayi baru lahir
2. Kuning Patologis
Biasanya muncul pada hari pertama kelahiran dan ditangani dengan melakukan fototerapi untuk menurunkan bilirubin indirek yang tinggi.
Ciri-ciri:
- Kadar bilirubin total dalam darah pada minggu pertama kehidupan > 12mg/dL pada bayi cukup bulan atau > 15mg/dL pada bayi prematur
Penyebab:
- Kemungkinan karena proses hancurnya sel darah merah yang berlebihan
Komplikasi yang Menyertai Kuning pada Bayi
Bayi kuning juga kadang disertai dengan urin seperti teh dan tinja berwarna kuning pucat. Ini disebabkan karena gangguan pengeluaran bilirubin (kolestasis). Parameter laboratorium untuk kolestasis yaitu:
- Bilirubin direk dalam darah > 1mg/dL bila bilirubin total < 5mg/dL atau
- Bilirubin direk > 20% dari bilirubin total jika kadar bilirubin total > 5mg/dL
Penyebab kolestasis bermacam-macam, tetapi perlu dilacak karena akan berpengaruh terhadap penanganannya. Penyebabnya antara lain:
- Infeksi atau
- Sumbatan aliran empedu atau tidak terbentuknya saluran empedu
Rata-rata 60% bayi yang mengalami kolestasis akan mengalami kekurangan energi protein, sehingga menggangu penyerapan lemak mengakibatkan lemak sering keluar bersama tinja. Oleh karena itu diperlukan kalori yang lebih tinggi dibandingkan bayi normal untuk mengejar pertumbuhan.
Penanganannya adalah dengan :
Memberikan formula MCT (Medium Chain Trigliserida) yang relative lebih larut dalam air sehingga tidak memerlukan garam empedu untuk penyerapan dan menghindarkan makanan yang banyak mengandung tembaga
Penambahan vitamin yang larut dalam lemak (vitamin A,D,E,K) dan mikronutrien (kalsium, fosfat, mangan, zinc, selenium, dan Fe atau zat besi)
Sumber: dokita.co ; Kompas. Ditulis oleh UKK Gastro-Hepatologi, Ikatan Dokter Anak Indonesia.
