Imunisasi Difteri
Imunisasi difteri dapat dilakukan melalui imunisasi DPT. Imunisasi DPT tidak hanya untuk imunisasi difteri saja namun juga penyakit lain. DPT adalah suatu vaksin tiga jenis penyakit dalam satu vaksin yang melindungi terhadap difteri, pertusis dan tetanus. Difteri adalah suatu infeksi bakteri yang menyerang tenggorokan dan dapat menyebabkan komplikasi yang serius atau fatal. Pertusis (batuk rejan) adalah inteksi bakteri pada saluran udara yang ditandai dengan batuk hebat yang menetap serta bunyi pernafasan yang melengking. Pertusis berlangsung selama beberapa minggu dan dapat menyebabkan serangan batuk hebat sehingga anak tidak dapat bernafas, makan atau minum. Pertusis juga dapat menimbulkan komplikasi serius, seperti pneumonia, kejang dan kerusakan otak. Tetanus adalah infeksi bakteri yang bisa menyebabkan kekakuan pada rahang serta kejang.
Informasi harga dan pembelian alat kesehatan - kedokteran klik disini
Penyakit difteri
Imunisasi difteri, pertusis dan tetanus dapat diberikan kepada anak yang berumur kurang dari 7 tahun. Biasanya imunisasi difteri, pertusis dan tetanus terdapat dalam bentuk suntikan, yang disuntikkan pada otot lengan atau paha. Imunisasi difteri pertusis dan tetanus diberikan sebanyak 3 kali, yaitu pada saat anak berumur 2 bulan (DPT I), 3 bulan (DPT II) dan 4 bulan (DPT III); selang waktu tidak kurang dari 4 minggu. Imunisasi DPT ulang diberikan 1 tahun setelah DPT III dan pada usia prasekolah (5-6 tahun). Jika anak mengalami reaksi alergi terhadap vaksin pertusis, maka sebaiknya diberikan DT, bukan DPT.
Imunisasi Difteri DPT - HiB
Imunisasi difteri, pertusis dan tetanus -HiB adalah imunisasi kombinasi antara imunisasi Difteri, Pertusis,Tetanus dan imunisasi HiB imunisasi gabungan atau imunisasi kombinasi antara imunisasi difteri, pertusis dan tetanus dan imunisasi HiB dimana vaksinnya digabungkan dalam satu vaksinasi . Imunisasi HiB atau imunisasi Haemophilus influenzae type B merupakan imunisasi yang diperuntukan mencegah terserangnya Bakteri Haemophilus influenzae type B dapat menyebabkan timbulnya penyakit meningitis atau radang pada selaput otak, infeksi pada tenggorokan, infeksi yang menyerang paru-paru, dan juga infeksi pada tulang.
Penyakit Meningitis dapat menyebabkan kelumpuhan, bahkan hingga kematian. Jikalau pun penderita penyakit meningitis dapat sembuh dari penyakit ini, dia akan menderita kelumpuhan syaraf atau yang biasa dikenal dengan stroke sepanjang hidupnya. Seperti halnya difteri, pertusis dan tetanus, penyakit HiB menular melalui udara. Dengan bersin saja, penderita HiB dapat menularkan penyakitnya pada individu yang sehat. Menurut data dari World Health Organization (WHO), setiap tahunnya ada 386.000 anak dari belahan dunia yang meninggal akibat penyakit meningitis.
Imunisasi Difteri, Pertusis, Tetanus dapat dikombinasikan dengan imunisasi HiB karena imunisasi DPT mempunyai jadwal imunisasi dasar yang hampir sama dengan jadwal imunisasi dasar HiB pada anak. Imunisasi DPT pertama dilakukan pada bayi yang berusia 2-4 bulan (lebih dari 6 minggu). Suntikan selanjutnya ketika bayi sudah berumur di usia 3-5 bulan dan saat 4-6 bulan (jarak interval 1 bulan). Sedangkan jadwal untuk imunisasi HiB adalah saat bayi berusia 2 bulan, kemudian dilanjutkan pada saat bayi berusia 3-4 bulan dan pada 4-6 bulan (interval hampir sama yaitu sekitar 1 bulan).
Imunisasi Difteri DPaT
DPaT adalah imunisasi difteri, pertusis, tetanus yang tidak menimbulkan demam setelah imunisasi seperti kebanyakan imunisasi DPT. Hal ini merupakan pengembangan dari vaksin DPT biasa, akibat dari kekhawatiran orang tua yang rancu akan gejala pasca imunisasi dengan gejala kegagalan imunisasi. Hingga saat ini, vaksin DPT masih digunakan seperti biasanya, sedangkan vaksin DPaT adalah pilihan alternatif untuk bayi yang mengalami kejang-kejang ketika demam atau yang mengalami penyakit syaraf.
Oleh : Bidan Rina Widyawati
Sumber :
- imunisasi.net
