“Dok, saya tuh nga mau sembarangan minum antibiotik. Kalo pilek, paling saya minum Super Tetra sebiji ajah, nga banyak-banyak kok, takut nanti jadi kelebihan dosis”, kata Iyem, disela perbincangannya dengan seorang dokter. Lain halnya dengan Parman yang dengan bangga mengatakan, “Saya kalo pegel linu, minum amoksilin sembuh loh dok, saya cocok banget pake obat itu.” Atau Siska yang anaknya menderita disentri dan diberikan antibiotik Cotrimoxasol oleh dokternya, tapi malah tidak meminum antibiotik tersebut, dengan alasan, “Lho, antibiotik kan tidak boleh dipakai sembarangan, kalo kebanyakan antibiotik bikin anak rentan penyakit. Saya baca itu di tabloid anak…”
Hal di atas hanya sebagian kecil dari kesalahpahaman yang terjadi di tengah masyarakat tentang pemakaian antibiotik. Sebagian dari antara mereka sedemikian berani menggunakan antibiotik dalam setiap kesempatan, dan sebagian lagi sangat takut untuk menggunakan antibiotik.
Sebenarnya, apa yang dimaksud dengan antibiotik?
Antibiotik adalah obat yang digunakan untuk mengobati penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Infeksi bisa disebabkan oleh banyak hal, virus, bakteri, jamur, dan parasit.
Nah, antibiotik hanya dapat menolong kita untuk mengatasi penyakit yang disebabkan oleh bakteri saja, dan tidak ada efek terhadap penyakit yang disebabkan oleh yang lainnya. Selain itu, jika anda mengkonsumsi antibiotik pada keadaan yang tidak perlu maka akan dapat merangsang timbulnya kuman yang tahan (resisten) terhadap antibiotik.
Kuman-kuman yang resisten terhadap antibiotik ini, maka akan memerlukan antibiotik jenis lain dari golongan yang lebih poten lagi (dan lebih mahal tentunya). Kerugian lainnya adalah dapat timbul diare pada penggunaan antibiotik. Hal ini dapat terjadi pada 20% orang yang menggunakan antibiotik.
Diare ini dapat timbul karena antibiotik mengganggu keseimbangan alami bakteri dalam usus, dimana bakteri yang diperlukan oleh tubuh (bakteri “baik”) menjadi mati dan bakteri yang “jahat” dan tahan terhadap antibiotik menjadi berkembang lebih cepat. Umumnya diare ini ringan dan cepat sembuh ketika antibiotik dihentikan, tetapi kadang2 dapat juga terjadi radang usus serius.
Jadi, kapan saya perlu antibiotik?
Untuk menjawab ini, terutama perlu diketahui apa sebab infeksimu. Jika disebabkan oleh bakteri, baru perlu antibiotik. Berikut beberapa hal yang dapat membantu menjadi petunjuk untuk menunjukkan penyebab infeksi:
- Common cold biasanya disebabkan oleh virus
- Sakit tenggorokan biasanya disebabkan oleh virus, tetapi jika disebabkan oleh streptococcus, maka memerlukan antibiotik.
- Diare paling banyak disebabkan oleh virus, sedangkan diare yang berdarah dan berlendir (disentri) baru memerlukan antibiotik.
- Pada infeksi telinga biasanya digunakan antibiotik.
- Antibiotik biasanya diberikan pada penderita sinusitis.
- Infeksi saluran kencing biasanya memerlukan antibiotik.
Bagaimana antibiotik dapat menjadi kawan dan bukan lawan?
- Gunakan antibiotik sesuai dengan anjuran dokter (meminumnya sesuai dosis, dan sampai habis).
- Jangan menghentikan antibiotik walau gejala penyakit sudah mereda atau hilang.
- Jangan meresepkan antibiotik untuk diri sendiri walau sebelumnya merasa cocok dengan antibiotik tersebut.
- Tidak menggunakan antibiotik yang diresepkan dokter untuk orang lain karena penyakit yang diderita belum tentu sama.
- Menyadari bahwa antibiotik bukanlah obat yang dapat menyembuhkan segala jenis penyakit (hanya efektif terhadap bakteri dan tidak virus atau yang lainnya).
- Sebaiknya tidak memaksa dokter untuk memberi antibiotik yang tidak diperlukan.
(dr. Sandy V. K. – Bagian Farmakologi FKUAJ)
Sumber : http://www.tanyadok.com
