Avian influenza (AI) adalah penyakit viral pada unggas peliharaan, termasuk ayam dan unggas liar yang disebabkan oleh virus influenza tipe A. Masyarakat luas lebih mengenal AI dengan nama flu burung (bird flu) yang sebetulnya merupakan penyakit viral (influenza) pada manusia yang ada hubungannya dengan infeksi virus influenza asal unggas.
Penyebab penyakit ini adalah virus influenza. Virus avian influenza adalah virus RNA yang termasuk dalam famili Orthomyxoviridae, genus virus influenza tipe A. Virus tersebut dapat menginfeksi berbagai jenis unggas, manusia, babi, kuda, dan kadang-kadang mamalia lain, misalnya cerpelai, anjing laut, dan ikan paus. Virus influenza tipe A mempunyai 8 RNA segmen, berbentuk helikal dengan diameter 80-120 nm, mempunyai amplop dengan lipid bilayer yang berasal dari hospes dan ditutupi oleh sekitar 500 tonjolan glikoprotein yang mempunyai aktivitas hemaglutinasi dan neuraminidase. Berdasarkan atas struktur antigen permukaan, yaitu hemaglutin (H) dan neuraminidase (N), maka virus influenza A dikelompokkan lagi menjadi banyak subtipe. Dikenal beberapa tipe Virus influenza, yaitu; tipe A, tipe B dan tipe C. Virus Inluenza tipe A terdiri dari beberapa strain, yaitu; H1N1, H3N2, H5N1, H7N7, H9N2 dan lain-lain. Adapun sifat virus ini, yaitu; dapat bertahan hidup di air sampai 4 hari pada suhu 22°C dan lebih dari 30 hari pada 0°C. Di dalam tinja unggas dan dalam tubuh unggas yang sakit dapat bertahan lebih lama, tetapi mati pada pemanasan 60°C selama 30 menit.
Variasi antigenik pada virus AI dapat ditemukan dengan frekuensi tinggi dan terjadi melalui 2 cara, yaitu shift dan drift. Shift antigenik dapat timbul akibat meluasnya wabah AI yang bersifat epidemik dan hanya ditemukan pada virus influenza tipe A. Semisal gene reassortment yang ditemukan pada virus influenza tipe A yang mengalami “pertukaran atau pencampuran gen†sehingga terjadi penyusunan kembali suatu gen baru yang bermanifestasi sebagai subtipe virus AI baru. Shift antigenik terjadi oleh adanya perubahan struktur antigenik yang bersifat dominan pada antigen permukaan H dan/atau N. Drift antigenik dapat terjadi oleh adanya perubahan struktur antigenik yang bersifat minor pada antigen permukaan H dan/atau N dan dapat ditemukan pada virus influenza tipe A dan B. Drift antigenik berlangsung lambat, tetapi progresif dan cenderung menimbulkan penyakit yang terbatas pada suatu kawasan. Mutasi yang timbul biasanya menimbulkan perubahan pada materi genetik dan polipeptida virus.
Tingkat keganasan virus AI bervariasi dan dapat dibedakan atas virus LPAI (Low pathogenic Avian Influenza) dan HPAI. Virus LPAI dapat menimbulkan penyakit yang bersifat asimptomatik ataupun penyakit ringan yang terbatas pada saluran pernapasan atau reproduksi dengan tingkat mortalitas rendah. Sebaliknya, virus HPAI dapat menimbulkan penyakit multisistemik dengan tingkat morbiditas dan/atau mortalitas yang tinggi, diantara 70% sampai 100%. Virus HPAI bersifat sangat kontagius dan dapat berasal dari virus LPAI melalui mutasi pada protein permukaan hemaglutinin.
Saat ini, penyebab flu burung adalah Highly Pothogenic Avian Influenza Virus (HPAI), strain H5N1 (H=hemagglutinin; N= neuraminidase). Hal ini terlihat dari hasil studi yang ada menunjukkan bahwa unggas yang sakit mengeluarkan virus Influenza A (H5N1) dengan jumlah besar dalam kotorannya. Virus Inluenza A (H5N1) merupakan penyebab wabah flu burung pada unggas. Secara umum, virus Flu Burung tidak menyerang manusia, namun beberapa tipe tertentu dapat mengalami mutasi lebih ganas dan menyerang manusia. Penularan Flu burung (H5N1) pada unggas terjadi secara cepat dengan kematian tinggi. Penyebaran penyakit ini terjadi di antara populasi unggas satu pertenakan, bahkan dapat menyebar dari satu pertenakan ke peternakan daerah lain. Sedangkan penularan penyakit ini kepada manusia dapat melalui udara yang tercemar virus tersebut, baik yang berasal dari tinja atau sekreta unggas terserang Flu Burung. Adapun orang yang mempunyai resiko besar untuk terserang flu burung (H5N1) ini adalah pekerja peternakan unggas, penjual dan penjamah unggas.
Gejala klinis yang ditimbulkan pada manusia :
- Demam (suhu badan di atas 38 derajat Celsius)
- Batuk-batuk dan tenggorokan terasa kering/nyeri.
- Nyeri otot
- Sesak napas
- Radang saluran pernapasan atas atau radang paru-paru (pneumonia)
- Infeksi selaput mata (conjunctivitis)
- Pusing
- Mual dan nyeri perut
- Muntah
- Diare
- Keluar lendir dari hidung
- Tidak ada nafsu makan
Pada unggas :
- Jengger berwarna biru
- Borok di kaki Kematian mendadak
Masa inkubasi Pada unggas 1 minggu, dan pada pada manusia berlangsung 1-3 hari. Masa infeksi 1 hari sebelum sampai 3-5 hari sesudah timbul gejala. Pada anak bisa sampal 21 hari.
Meski gejalanya bisa amat beragam, Anda diminta tetap waspada jika merasakan atau menemukan gejala berikut ini diantara keluarga atau binatang piaraan ada, segara mencari pertolongan dan hubungi petugas berwenang.
Tindakan Pencegahan
- Jaga kebersihan diri sendiri, antara lain sering mencuci tangan dengan sabun.
- Bersihkan lingkungan sekitar tempat tinggal.
- Menggunakan alat pelindung diri (masker, sarung tangan, kacamata) –merupakan upaya yang harus dilakukan oleh mereka yang kontak dengan binatang, baik dalam keadaan mati, apalagi ketika hidup.
- Karena telur juga dapat tertular, maka penanganan kulit telur dan telur mentah perlu dapat perhatian pula. Konsumen sebaiknya langsung mencuci telur mentah yang baru dibeli –biasanya ada sedikit menempel kotoran ayam– agar tidak terjadi kontaminasi sebelum disimpan di kulkas.
- Daging unggas harus dimasak sampai suhu 70 derajat C atau 80 derajat C selama sedikitnya satu menit.
- Pilih unggas yang sehat (tidak terdapat gejala-gejala penyakit pada tubuhnya).
- Pola hidup sehat. Secara umum pencegahan flu adalah menjaga daya tahan tubuh dengan makan seimbang dan bergizi, istirahat dan olahraga teratur.
- Hindari kontak langsung dengan ayam atau unggas yang kemungkinan terinfeksi flu burung.
- Lakukan imunisasi pada hewan piaraan.
(Yulia Tanti Narwati, SSi., MSi. – Bagian Mikrobiologi FK. Atma Jaya)
Refferensi :
Brooks, G.F., Butel, S.J., Morse, A.S. Jawetz, Melnick, & Adelberg’s : Medical Microbiology. International Edition. 23rd Edition. McGraw-Hill Co., USA. 2004.
Sumber : http://www.tanyadok.com
