022 2032522
0822 144 623 86
D38FBC35
tokoalkes.com
Menu

( pcs)
jmlBarangBerat (Kg)Total
keranjang anda kosong
0 0,00Rp 0
Selesai Belanja
Rp 63.500 70.000
habis
Rp 410.000
Order Sekarang » SMS :
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
Nama BarangUji Tifoid IgM Rapid Test Untuk Pemeriksaan Tifoid
Harga Rp 410.000
Lihat Detail

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Eliminasi (Buang Air Kecil dan Buang Air Besar)

Tuesday, October 14th 2014.

Oleh : Bidan Rina Widyawati

Dalam proses eliminasi terdapat 2 jenis eliminasi yang dilakukan tubuh manusia yaitu eliminasi urine (berkemih) dan eliminasi alvi (buang air besar). Berkemih adalah proses pengosongan kandung kemih bila kandung kemih terisi.

Proses ini terjadi dari dua langkah utama yaitu : Kandung kemih secara progresif terisi sampai tegangan di dindingnya. Langkah Kedua Timbul refleks saraf yang disebut refleks miksi (refleks berkemih) yang berusaha mengosongkan kandung kemih atau jika ini gagal, setidak-tidaknya menimbulkan kesadaran akan keinginan untuk berkemih.

Meskipun refleks miksi adalah refleks autonomik medula spinalis, refleks ini bisa juga dihambat atau ditimbulkan oleh pusat korteks serebri atau batang otak. Eliminasi alvi adalah proses pembuangan atau pengeluaran sisa metabolisme berupa feses yang berasal dari saluran pencernaan melalui anus.

Manusia dapat melakukan buang air besar beberapa kali dalam satu hari atau satu kali dalam beberapa hari. Tetapi bahkan dapat mengalami gangguan yaitu hingga hanya beberapa kali saja dalam satu minggu atau dapat berkali-kali dalam satu hari, biasanya gangguan-gangguan tersebut diakibatkan oleh gaya hidup yang tidak benar dan jika dibiarkan dapat menjadi masalah yang lebih besar.

Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi eliminasi, yaitu:

  1. Diet dan cairan. Jumlah dan tipe makanan merupakan faktor utama yang mempengaruhi output urine (jumlah urine). Contoh : Alkohol menghambat Anti Diuretik Hormon (ADH) untuk meningkatkan pembuangan urine. Kopi, teh, coklat, cola (mengandung kafein) dapat meningkatkan pembuangan dan eksresi urine.
  2. Respon terhadap dorongan awal untuk berkemih. Kebiasaan mengabaikan keinginan untuk awal untuk berkemih dapat menyebabkan urine banyak tertahan di vesika urinaria sehingga mempengaruhi ukuran vesika urinaria dan jumlah pengeluaran urine. Jika stress frekuensi BAK meningkat yang disebabkan meningkatnya urine yang diproduksi, karena meningkatnya sirkulasi darah akibat rangsangan saraf simpatis yang ditimbulkan dari pengeluaran hormon epinefrin saat stress.
  3. Tingkat aktifitas. Eliminasi urine membutuhkan tonus otot vesika urinaria yang baik untuk fungsi spingter. Kemampuan tonus otot didapatkan dengan beraktivitas. Hilangnya tonus otot vesika urinaria menyebabkan kemampuan pengontrolan berkemih menurun. Kerusakan tonus otot vesika urinaria terjadi pada pasien yang memakai dower katheter pada waktu yang lama. Hal ini disebabkan setiap vesika urinaria berisi, langsung dikeluarkan sehingga tidak mendapat rangsangan penekanan yang akan menyebabkan produksi urine meningkat.
  4. Tingkat perkembangan. Tingkat Tumbuh kembang mempengaruhi pola BAK, hal tersebut dapat ditemukan pada anak, yang lebih memiliki kesulitan untuk mengontrol BAK. Namun, dengan bertambahnya usia kemampuan dalam mengontrol BAK meningkat.
  5. Kondisi penyakit. Beberapa penyakit dapat menyebabkan pengeluaran urine bertambah/ berkurang, keadaan demam menyebabkan produksi urine berkurang karena banyak kehilangan cairan melalui kulit. Peradangan dan iritasi organ perkemihan menyebabkan retensi urine.
  6. Obat-obatan. Beberapa obat dapat menyebabkan perubahan urine baik dalam jumlah besar maupun karakter misal obat diuretika menyebabkan urine bertambah.
  7. Sosiokultural. Budaya dapat mempengaruhi pemenuhan kebutuhan eliminasi urine, seperti adanya kultur pada masyarakat tertentu yang melarang BAK di tempat tertentu.
  8. Kebiasaan seseorang. Seseorang yang memiliki kebiasaan berkemih di toilet, biasnya mengalami kesulitan untuk berkemih dengan melalui pot urine bila mengalami sakit.
  9. Tonus otot. Tonus otot yang memiliki peran penting dalam membantu proses berkemih adalah otot kandung kemih, otot abdomen dan pelvis. Ketiganya sangat berperan dalam kontraksi pengontrolan urine. Lemahnya otot abdomen dan otot dasar panggul merusak kontraksi kandung kemih dan sfingter kontrol eksterna. Kontrol yang buruk dapat diakibatkan oleh otot yang tidak dipakai yang merupakan akibat dari lamanya imobilitas, peregangan selama melahirkan, atrofi otot setalah menopause dan kerusakan otot akibat trauma.
  10. Pembedahan. Efek pembedahan dapat menurunkan filtrasi glomerolus yang menyebabkan penururnan jumlah produksi ureine karena dampak dari pemberian obat anastesi. Contoh pada anastesi spunalis menimbulakan resiko retensi uriene, karena akibat anestesi ini klien tidak ampu merasakan adanya kebutuhan otot kandung keih dan otot sfingter juga tidak mampu merespon terhadap keinginan berkemih.
  11. Pemeriksaan diagnostik. Pemeriksaan diagnostik ini dapat mempengaruhi kebutuhan eliminasi urine, khususnya prosedur-prosedur yang berhubungan dengan tindakan pemeriksaan saluran kemih seperti IVP (intra Venus Pyelogram), yang dapat membatasi jumlah asupan sehingga mengurangi produksi urine. Selain itu, tindakan sistokopi dapat menimbulkan edema lokal pada uretra yang dapat mengganggu pengeluaran urine.

Alat kateter untuk mengeluarkan urine dan pispot bisa didapatkan di TokoAlkes Jl. Pasir kaliki no. 239B (depan RSHS), atau bisa menghubungi telp 0851 0117 9366 SMS : 0822 144 623 86, BBM : 7F8B61CD, WA : 0822 144 623 86.

 

Sumber :

  • Buku Keterampilan Dasar Praktik Klinik Kebidanan

 

Incoming search terms:

  • faktor yang mempengaruhi eliminasi urine
  • faktor yang mempengaruhi eliminasi
  • faktor yang mempengaruhi eliminasi urin
  • faktor faktor yang mempengaruhi eliminasi urine
  • faktor yang mempengaruhi berkemih
  • faktor yg mempengaruhi eliminasi urine
  • Faktor yg mempengaruhi eliminasi urin
  • Faktor yg mempengaruhi berkemih

Produk terbaru

Rp 12.000
Order Sekarang » SMS :
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
Nama BarangSetengah Koher (1/2 kocher)
Harga Rp 12.000
Lihat Detail
Rp 790.000
habis
Rp 30.000
Order Sekarang » SMS :
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
Nama BarangSonde Uterus atau Uterine Sonde (Pengukur Panjang Rahim)
Harga Rp 30.000
Lihat Detail
Rp 1.760.000
Order Sekarang » SMS :
ketik : Kode - Nama barang - Nama dan alamat pengiriman
Nama BarangBed Screen Stainless Steel Triple (3 Bidang)
Harga Rp 1.760.000
Lihat Detail